Apakah Pola Makan Perlu Berubah Seiring Bertambahnya Usia? Inilah Temuan Para Peneliti

Mengikuti pola makan seimbang telah lama diyakini sebagai landasan utama untuk hidup sehat. Namun, temuan penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebutuhan nutrisi manusia tidak statis. Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami perubahan fungsi, metabolisme, dan struktur, sehingga jenis makanan yang dibutuhkan juga bergeser sesuai dengan perubahan tersebut.

Salah satu wawasan kunci tentang pentingnya nutrisi di awal kehidupan berasal dari sebuah studi besar yang meneliti dampak konsumsi gula pada tahap awal kehidupan. Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2025 di jurnal ilmiah BMJ melibatkan sekitar 63.000 orang yang lahir di Inggris pada awal tahun 1950-an, ketika kebijakan pembatasan gula masih berlaku pasca-perang. Para peneliti menemukan bahwa individu yang terpapar lebih sedikit gula sejak kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit kardiovaskular di masa dewasa, termasuk gagal jantung dan stroke.

Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pola makan pada masa kanak-kanak memainkan peran utama dalam kesehatan jangka panjang. Selama fase ini, tubuh membutuhkan energi tinggi dan nutrisi penting seperti zat besi, yodium, kalsium, vitamin D, dan berbagai vitamin serta mineral untuk mendukung pertumbuhan tulang, perkembangan otot, dan perkembangan otak. Oleh karena itu, konsumsi buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan lemak sehat menjadi sangat penting.

Saat seseorang memasuki masa remaja dan awal dewasa, prioritas nutrisi mulai berubah. Pada tahap ini, tubuh menyelesaikan pembentukan tulang dan perkembangan massa otot, sambil mulai menghadapi tuntutan belajar, bekerja, dan kehidupan sosial. Menurut para ahli nutrisi, diet nabati seimbang dengan protein yang cukup dan rendah makanan ultra-olahan dapat membantu menjaga kesehatan fisik dan mental. Beberapa penelitian juga telah mengaitkan pola makan yang tinggi makanan olahan dengan peningkatan risiko gangguan kecemasan dan depresi pada kelompok usia muda.

Saat memasuki usia paruh baya, terutama bagi wanita yang mendekati menopause, kebutuhan nutrisi mengalami penyesuaian lagi. Penurunan hormon dapat memicu penurunan kepadatan tulang dan peningkatan risiko penyakit jantung serta gangguan metabolisme. Pada fase ini, asupan protein yang cukup, lemak sehat seperti omega-3, dan pola makan ala Mediterania dianggap efektif untuk menjaga kesehatan jantung, tulang, dan otot.

Di usia lanjut, meskipun kebutuhan kalori menurun, tubuh tetap membutuhkan nutrisi penting untuk menjaga kekuatan fisik dan fungsi organ. Kalsium, vitamin D, dan protein menjadi prioritas utama, disertai dengan asupan serat tinggi untuk mendukung kesehatan pencernaan dan keseimbangan bakteri baik di usus. Para peneliti juga menemukan bahwa orang yang menua dengan sehat cenderung memiliki mikrobioma usus yang lebih beragam, yang berperan dalam menjaga sistem kekebalan tubuh dan fungsi kognitif.

Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu pola diet pun yang cocok untuk semua usia. Menyesuaikan asupan nutrisi dengan tahapan kehidupan menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan, mencegah penyakit kronis, dan meningkatkan kualitas hidup dalam jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *